BPS Mencatat Besaran Ekspor Indonesia Ke China Berbeda Denga Catatan China

BPS mencatat ekpsor Indonesia ke China sebesar 50 miliar dolar AS. Sementara itu, Cina mencatat 60 miliar dolar.  Dan Menteri Perdagangan Gita, mengungkapkan akan segera menyikapi perbedaan data ini.

Perbedaan data itu bisa jadi disebabkan adanya penambahan nilai di kota transit sebelum sampai ke China. Misalnya, sepatu di Tanjung Priok nilainya 100 dolar. Tapi di kota transit diberi tali. Talinya mungkin 20 dolar. Waktu dikirim China mencatat impor 120 dolar. Nah, apakah tali sepatunya nilainya 10 dolar? Itu yang perlu kita pelajari. Gita mengatakan, akan memeriksa tempat-tempat transit dan lembaga di Indonesia yang berhubungan dengan pelepasan barang keluar seperti bea cukai.

Kini, sudah ada kesepakatan antara BPS sebagai petugas pencatatan dari Indonesia dengan lembaga pencatatan di China agar diperoleh data yang seragam. Mudah-mudahan kita bisa menyelaraskan mekanisme pendataan. Siapa tahu mekanisme pendataannya juga beda. Pemerintah Indonesia memiliki pekerjaan rumah (PR) besar soal perdagangan dengan China. Bukan hanya maraknya produk China yang membanjiri pasar Indonesia, pencatatan transaksi jual beli Indonesia dan China belakangan juga ditemukan ada yang tidak beres. Ia pun amat heran kenapa China bisa membuat barang dengan harga yang amat murah. Indonesia, katanya, untuk saat ini tak bisa memproduksi barang-barang dengan harga serendah itu.

Pasalnya Industri Indonesia hanya memiliki bahan baku dan minus mesin. Sedangkan Cina, imbuhnya, memiliki mesin, bahan baku dan tenaga kerja berlimpah, sehingga mampu memangkas biaya produksi.  Kedepan China takkan bisa membuat produk dengan harga yang murah karena saat ini ongkos produksi di China sudah cukup mahal. Salah satu penyebabnya adalah kenaikkan upah pekerja di China. Harga produk asal China yang amat murah, tidak hanya dipermasalahkan produsen atau industri dalam negeri. Produk asal China ini juga memukul produksi negara-negara di dunia.