Pertumbuhan Bisnis Software Indonesia Capai 15 Persen Tahun 2012

Nilai pertumbuhan software di Indonesia tahun 2011 mencapai US$526 juta (Rp4,8 triliun). Namun dari jumlah itu sebagian besar justru dinikmati oleh pengembang luar negeri. Dari 20 persen tersebut, 16 persen digunakan pengembang perusahaan, dan 4 persen diperebutkan oleh 150 sampai 200 pengembang individu lain.

Sebelumnya, data dari Business Monitor International (BMI) memperkirakan pengeluaran biaya TI pada tahun 2015 akan mencapai US$ 10,2 miliar dengan pertumbuhan software lokal mencapai 18 persen per tahun. Namun sayangnya pasar TI, terutama pasar software, masih didominasi oleh software dari luar. Saat ini software lokal hanya 20 sampai 30 persen dari total software yang ada.

Software yang berkembang di Indonesia, di antaranya yakni platform dan software aplikasi. Ia memperkirakan pertumbuhan bisnis software pada tahun ini mencapai 15 persen. “Pertumbuhan mencapai 12 sampai 13 persen sampai 2015,” katanya.

Wakil Ketua Asosiasi Piranti Lunak Telamatika Indonesia (Aspiluki) Riyanto Gozali menjelaskan, 80 persen dinikmati pemasok Eropa dan sebagian Asia, 20 persen oleh perusahaan pengembang Indonesia.

Para pengembang software lokal, cenderung memikirkan keuntungan yang didapat saat membuat sebuah software. Agar industri software lokal dapat berkembang setidaknya harus memperhatikan produk, target market dan model bisnis. Para start up lokal, lanjutnya juga harus melihat seberapa besar potensi adopsi pasar di samping pengembangan produk. Juga jangan melupakan model bisnis.