Karya Seni Dokumenter Karya Fang Li Jun

Seniman pionir kontemporer asal Tiongkok Fang Li Jun, boleh dibilang unik. Bersama Museum of Contamporary Art (MOCA) yang berkolaborasi dengan Linda Gallery, seniman kelas dunia asal Tiongkok ini menggelar pameran dokumenter bertema Documenta di Singapura, 8 Maret sampai 30 April 2012. Ratusan karya uniknya dikemas menarik di mana pengunjung diajak untuk mengenal lebih dekat pribadi dan sosok sang seniman lewat dokumentasi-dokumentasi dini yang divisualisasikan dalam bentuk foto dan lukisan.

Dalam keterangan tertulis, Linda Gallery disebutkan bahwa pengunjung dan kolektor seni pun diajak untuk melihat satu per satu perjalanan sang seniman, perkembangan karya-karya seni Fang Li Jun, serta pemikiran dan konsep-konsep seni sang seniman dari kurun waktu 1963-2012. “Saya tidak pernah merencanakan setiap kali akan membuat sebuah karya seni. Saya hanya mencoba mengingat sejumlah pengalaman hidup saya, kemudian menuangkannya dalam sebuah karya seni,” katanya. Fang mengaku puas membuat sebuah karya tentang diri sendiri, karena dia sudah memahami betul karakter dan pemikirannya. Karena itu, baginya tidak terlalu sulit untuk membuat sejumlah karya seni. Meski di sisi lain ia sadar kebanyakan seniman lebih suka memilih objek seni di luar dirinya sendiri. Menurutnya itu hal yang lumrah. “Tetapi, jika mampu membuat sebuah karya dokumentasi tentang diri sendiri, itu akan lebih mudah membuat objek lain. Karena membuat karya seni tentang diri sendiri, berarti harus mampu menilai karakter diri sendiri,” paparnya.

Kritis Penanggung jawab MOCA Ali Kusno Fusin didampingi Linda Ma menyatakan, pameran Fang Li Jun kali ini tidak bersifat komersil. Baginya Fang sebagai seniman kontemporer yang cukup senior di Tiongkok mampu menghasilkan karya yang unik dan inspiratif. “Tidak banyak seniman yang mendokumentasikan dirinya dalam sebuah karya seni. Meski membahas tentang diri sang seniman, karya seninya tetap menarik karena bisa membawa pecinta seni pada sebuah pandangan kritis,” ucapnya. Ali menambahkan, berbeda dengan seniman kontemporer di Tiongkok lainnya yang lebih suka membuat karya seni yang bersifat kritikan terhadap kehidupan sosial dan politik, lain halnya dengan Fang. Dia mampu mengemas kritik dan memasukan unsur budaya dan sejarah Tiongkok yang juga menjadi bagian dari perjalanan hidup dan mempengaruhi karya seninya.