Terjepit, Arema Berharap ‘Pemutihan’ Kartu Kuning

Arema kelimpungan. Mereka lagi-lagi terancam keropos materi ,menjelang laga kandang, melawan Persija Jakarta di Stadion Gajayana Malang, Ahad (29/4) ini,

Pasalnya lima pemain klub Singo Edan terancam tak bisa diturunkan. Mereka terkena akumulasi kartu kuning yang diterima saat dijamu Persema Malang, Senin (26/3) lalu.

Arema pun mengharapkan ‘pemutihan’ sanksi akumulasi kartu itu pada PSSI dan PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) selaku regulator kompetisi Indonesia Primier League (IPL) 2011/12. ‘’Kami harapkan pemain yang terkena akumulasi kartu itu bisa diputihkan saat lawan Persija nanti,’’ kata manajer media officer Arema Indonesia, Noor Ramadhan kepada GOAL.com Indonesia, Jum’at (27/4).

Lima pemain yang terancam tak bisa diturunkan karena akumulasi kartu kuning itu adalah Marko Krasic, TA Musyafri, Hermawan, Irfan Raditya, dan Andrew Barisic. Mereka diganjar kartu kuning saat Arema dijamu Persema di Stadion Gajayana Malang, Senin (26/3) silam.

Dalam pertandingan yang berlangsung panas itu, wasit Faulur Rosy mengeluarkan 12 kartu kuning. Tujuh kartu kuning diberikan pada pemain Arema. Lima di antara pemain Singo Edan itu tidak bisa diturunkan kala menjamu Persija, karena pertandingan lawan Bontang FC dibatalkan dan dituna lagi oleh PT LPIS. Alasannya, Bontang FC tak hadir saat pertandingan digelar. Padahal, kala itu Arema sudah melakukan prosesi pertandingan sesuai aturan manual liga.

’’Seharusnya, saat kami menjamu Bontang FC itu tidak hanya diberi kemenangan karena tim lawan WO. Namun, juga bisa terbebas dari sanksi pemain yang terkena akumulasi kartu kuning,’’ jelasnya.

Maka dari itu, Noor Ramadhan mengaku masih bingung soal status lima pemainnya itu. Mereka bisa dimainkan apa tidak ketika melawan Persija Jakarta nanti. Karena itu, dia berharap PSSI dan PT LPIS memberikan kebijakan khusus pada lima pemain Arema yang terkena akumulasi kartu kuning itu. Status kartu kuning pada mereka diputihkan sehinga bisa diturunkan saat menjamu Persija Jakarta nanti.