Hikmah dibalik Kesulitan-kesulitan

Ada sebuah legenda tentang seorang bangsawan Jerman yang mempunyai istana di perbukitan, ditepi sungai Rhein. Sebagai seorang pecinta musik, ia memasang beberapa kawat di antara dua menara di kuilnya dengan harapan kalau-kalau angin akan menggetarkan kawat-kawat itu sehingga menghasilkan musik. Namun, aliran angin sungai Rhein tidak menghasilkan suara sedikit pun. Pada suatu malam, terjadilah badai hebat di lembah itu. Badai yang dahsyat menerpa istana bangsawan tersebut. Bahkan, gunung-gunung sekitar pun tampak terguncang. Sang bangsawan membuka tirai jendela untuk mengawasi perkembangan badai, dan dalam keheranannya, ia mendengar alunan musik yang merdu. Sekarang kawat-kawat itu mendesing bagaikan petikan senar gitar. Ternyata kawat-kawat itu memerlukan badai untuk menghasilkan musik yang merdu dan indah!

Demikian juga kita, saat senang menikmati kelimpahan, kekayaan, hanya sedikit keindahan rohani yang terlihat dalam diri kita. Namun, ketika Tuhan mengirim cobaan, Ia dapat membuat musik yang merdu dan indah keluar dari diri kita. Masa kritis memang membuat kita semakin kuat dalam berdoa dan mengandalkan Tuhan, hal yang sepertinya tidak kita lakukan pada saat hidup kita baik-baik saja. Bahkan, kesusahan yang Tuhan izinkan mampu membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan. Pendek kata, semua kesulitan itu bertujuan memperbaiki apa yang rusak pada kepribadian kita.

Karena itu, terimalah setiap badai hidup itu sebagai alat yang dipakai Tuhan untuk memuliakan kita. Dan, yakinlah kemalangan pun bisa menjadi jembatan menuju kekeberuntungan bila ujian itu memang Tuhanlah yang mengizinkan.