Realestat Indonesia Menyatakan Keberatannya Terhadap Bank Indonesia

Salah satu tipe rumah yang banyak dibeli konsumen pertama salah satunya adalah BEKY SUBECHVJAWA PC BEBANI KONSUMEN. Penerapan aturan pembayaran awal minimal 30 persen akan memberatkan segmen konsumen terbesar itu. Asosiasi Perusahaan Realestat Indonesia (REI) mengirimkan pernyataan keberatan resmi kepada Bank Indonesia (BI) untuk menunda pemberlakukan aturan uang muka (UM) minimal 30 persen karena dikhawatirkan berdampak negatif bagi konsumen yang ingin membeli rumah pertama.

Pertimbangannya adalah tingginya kekurangan rumah, sementara perbandingan kredit terhenti untuk kredit komersial dan properti residensial masih rendah. Bagi Realestat Indonesia, peraturan BI masuk akal dilaksanakan apabila non performing loan (NPL) atau rasio kredit bermasalah dan kredit pemilikan rumah (KPR) mengkhawatirkan. Tetapi, saat ini posisi yang terjadi di dunia perbankan tidak demikian.

Karena itu, Realestat Indonesia mengirimkan surat kepada BI yang meminta pertimbangan bank sentral tersebut untuk menunda pemberlakukan aturan itu. Handaka Santosa , Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) REI mengutip data bank Dunia yang menyebutkan jumlah kelas menengah Indonesia di 2012 akan bertambah 7 juta orang.

Mereka dimasukan ke kelompok konsumen rumah pertama. Disamping itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2012 mengenai angka backlog perumahan sebanyak 13,6 juta harus menjadi pertimbangan. Angka itu bertambah 800 ribu unit per tahun. Aturan baru ini akan memberatkan mereka.

Dari data pengamatan yang dilakukan Kantor BI Surabaya dalam laporan Kajian Ekonorr Regional Jatim Triwulan 2011 aturan minimal UM tersebut akan memberikan pengaruh pada keputusan pengajuan kredit hingga 21 persen. Setengah dari tanggapan perbankan memperkirakan kebijakan tersebut akan memberi pengaruh bagi kredit sekitar 28 persen.Selain itu, aturan tersebut dikhawatirkan memengaruhi vestasi dan bisnis properti.