Rene Louis Conrad

Pada sekitar 1970 adalah awal “bubarnya” hubungan harmonis antara tentara dan mahasiswa. Melihat tingkah laku tentara dan polisi yang sok berkuasa terhadap rakyat, muncul rasa tidak puas di kalangan mahasiswa, terhadap militer. Rasa puas semakin mengental saat dalam rangka “Dwi Fungsi ABRI” pemerintah memberlakukan kurikulum “Wajib Latih Mahasiswa” (Walawa). Imbasnya mahasiswa harus dibentuk persis seperti seorang tentara: harus penurut dan dilarang berambut gondrong. Maka maraklah razia besar-besaran terhadap mahasiswa yang berambut gondrong oleh polisi dan tentara. Banyak mahasiswa dan pemuda yang ditangkapi di jalan-jalan, lalu digunduli. Hubungan militer-mahasiswa pun menegang.

Guna menormalkan situasi, pihak Kepolisian RI membuat insiatif pertandingan sepakbola persahabatan antara pihak AKABRI Kepolisian dengan mahasiswa ITB di kampus ITB. Alih-alih menjadi damai, momen ini malah digunakan oleh sebagian mahasiswa untuk melampiaskan rasa kesalnya terhadap polisi. Sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi lain, seperti Universitas Padjadjaran dan Universitas Parahyangan pun datang menyaksikan pertandingan itu. Sebagai bentuk bahan cemohan, beberapa mahasiswa gondrong membawa gunting dan mengejek-ejek pihak polisi sambil teriak-teriak, “Katanya ga boleh gondrong, ayooo gundulin gue!”

Taruna-taruna Akpol yang juga anak muda tentu saja naik pitam diejek-ejek demikian. Sebagian dari mereka lantas mengeluarkan pistol dan mengancam akan menembak para mahasiswa. Bukanya takut, mahasiswa malah mengusir para taruna itu dari kampus. Tidak berakhir di sana, para taruna itu ternyata tidak terus pulang namun malah kembali dan membawa bala bantuan. Mereka juga membawa sepasukan Brimob ke kampus ITB. Maka pecahlah bentrok yang berujung kematian seorang mahasiswa ITB bernama Rene Louis Conrad.

Rene sesungguhnya bukan mahasiswa yang tengah terlibat dalam bentrok. Ia yang katanya belakangan masuk kampus dengan mengendarai sepeda motor Harley Davidsonnya ditembak hingga tewas. Mayatnya dibuang ke atas kendaraan polisi begitu saja, lalu ditaruh di gudang. Menurut sebagian pihak, andaikan Rene segera dibawa ke dokter, kemungkinan ia tidak harus meninggal.

Tewasnya Rene membuat suasana kampus di Bandung semakin panas dan mencekam. Di mana-mana terjadi demonstrasi besar-besaran. Kendaraan-kendaraan umum dicegati mahasiswa dan bila ditemukan ada tentara di dalamnya, mereka akan diturunkan lalu diusir. Konon markas polisi di Jalan Dago menjadi kosong melompong karena semua polisi pada menyembunyikan diri. Panser-panser yang dikerahkan untuk menghentikan demonstrasi pun dibuat tak berdaya dalam kepungan mahasiswa.

Belakangan diketahui bahwa yang menembak Rene adalah seorang taruna AKABRI Kepolisian. Namun karena taruna itu konon adalah anak seorang jenderal, maka yang dikorbankan adalah seorang anggota Brimob, Brigadir Polisi Dua Djani Maman Surjaman.

Ibunda dari Rene Louis Conrad

Pada saat pengadilan sang Brimob tersebut, mahasiswa malah melakukan pembelaan terhadap sang Brimob. Mereka kemudian meminta pengacara kawakan Adnan Buyung Nasution untuk menjadi pengacaranya. Selihai apapun Bang Buyung, ia tak berdaya menghadapi liciknya kekuasaan Ode Baru. Sidang Mahkamah Militer Priangan-Bogor pada Desember 1970 tetap memvonis Djani dengan hukuman 5 tahun 8 bulan penjara (tetapi setelah melakukan banding Mahkamah Kepolisian Tinggi 13 April 1972 memberikan vonis berbeda yaitu 1 tahun 6 bulan). Usai dipenjara, Djani Maman Surjaman kembali bertugas seperti biasa di Kepolisian RI. Ini adalah foto ibu dari Rene Louis Conrad yang tengah menunjuk-nunjuk Kapolri Awaludin Jamin dalam sebuah aksi demonstrasi menentang Soeharto pada 1978. Rupanya kematian sang anak di tangan polisi 8 tahun sebelumnya, membuat ia tak pernah merasa puas terhadap korps berseragam coklat tersebut.